Sebagaimana Saya pada Enam Tahun yang Lalu

“seringnya jutek sama orang tertentu, salah satunya aku. trus pernah asik ke orang tapi orang tertentu juga.”

“kurang bisa nempatin diri.”

“ga jelas anaknya…ga konsisten.”

“pendiem, tapi suka aneh.”

“duh apa ya? gw ga terlalu perhatiin dia sih.”

“…tampang jutek, omongan rada2 ketus(kadang2)…”

“gimana ya? kadang suka ga jelas…”

“pertama kali liat serem euy, apalagi waktu rembutnya belum dipotong. Ini mahasiswa apa bukan?”

“dia tanggung jawab dan pemimpin”

“dulu aku suka gangguin tapi sekarang agak sungkan coz makin bijaksana. Yang aku tau wahyu ikhwan supel…he3x. Pinter banget, baik, suka ngajarin…tanggung jawab bo…”

“komti generasi II. pinter, ganteng, serius, banyak fansnya loh yu! Jenggotnya santri.”

“tampangnya ROHIS banget. pinter, gaul dan kadang ‘menusuk’.”

“pinter, jago penkom, pendiem tapi cukup caur juga.”

“…lo orangnya asik koq walau kata2nya berat…”

“pinter, ternyata bocor juga ya.”

“ngayomi banget wahyu…”

“ikhwan gaul, pinter, heboh, suka bercanda juga.”

“easy going, nyantai dan hanyok2 aja.”

“kaga pernah akur gw ma lo!! gw kaga setuju lu jadi komti baru!! dasar kau menyebalkan!! wee..:9”

“gila kalo bercanda… omongannya dalem, sindiranya tajem. tapi pinter dan enak diajak koordinasi, ga ngebingungin dan njelimet.”

“a very simple person! I like it. Pinter, bijak. masalah seribet apapun kalo diceritain sama dia terasa lebih mudah.”

“pinter, simple, kocak.”

“…baek, to the point, pinter dan alim. akan lebih baik lagi kalo wahyou bisa nempatin diri dengan baik.”

“wow, nih anak satu bener-bener solutif!!! kalo ada masalah sharing aja ke dia. dengan entengnya dia ngasih solusi, tapi masalah selesai!!! cuek, kalo ngomong langsung to the point, kadang pedes juga, he..he.. wayaw c komti baru. semangadh yakz!! pinter banget c, tapi tetep low profile. tetep down to earth ya yaw,,, n keep istiqomah.”

“well, lo tuch orang paling bijak yang pernah gw kenal selain kakek gw. disaat2 darurat lo bisa diandelin, kepala lo masih bisa dingin kayak kulkas meski di sekitar lo udah panas kayak neraka. lo tuh solutif banget. win-win solution. pinter, smart, simple. makanya ga heran klo banyak yang curhat atau minta rekomendasi dan saran dari lo. bisa baca bakat dan sifat kadang2. apa ya namanya? ‘dewasa’ kali ya?…”

“pinter, cuek tapi baik. buktinya mau ngajarin SATOP ke kita2..”

“tegas, maksa, rajin, diem, garink, seru (kayaknya), aneh, tahan banting, visioner, pemimpin, pinter banget, teratur, cerdas, rapi, to the point, blak-blakan”

Tulisan ini merupakan hasil permak tulisan di blog lama saya yg sudah expired. Sebagian besarnya adalah pendapat teman-teman kuliah saya yang dikutip sebagaimana adanya. Sebagian kecilnya merupakan rangkuman pendapat dari beberapa kakak dan adik kelas saya saat SMA. Kedua sumber tersebut ditulis pada awal tahun 2008. Dan buat yang nyamain saya dengan kakeknya, please deh, waktu itu umur saya masih 20 tahun kelles…. #plak

[Late Post] Merindukan Kebosanan

Saya rindu kebosanan saat di meja kerja
Saya rindu kebosanan dalam macet di jalan-jalan Ibukota
Saya rindu kebosanan saat berakhir pekan

Ya…
Saya bosan kini,
dan saya rindu kebosanan yang biasanya…

 

International Bamboo and Rattan Tower, 18 Mei 2012

 

Keterangan :

Tulisan lama yang tidak sengaja saya temukan di folder ‘Download’ pada laptop saya. Tercecer begitu saja, sampai lupa pernah nulis ini. Sepertinya ditulis saat saya homesick karena mendapatkan penugasan seminar yang cukup lama di luar kota. Bwehehe… :p

 

Doclang

Siapa yang pernah makan doclang? Doclang ini sejenis kupat tahu. Makanan khas Bogor yang sudah jarang ditemui. Dan beruntungnya saya yang ternyata sudah beberapa kali makan doclang di Gg Selot sebelah SMA saya. Dulu sih ga tau kalau yang saya makan itu namanya doclang, ngertinya ya kupat tahu, baru tau belakangan ini saja.

Dan kalau diingat-ingat saya ternyata lebih sering beli doclang di selot malah pas udah jadi mahasiswa. Kadang sebelum ngisi mentoring pekanan, kadang sesudahnya. Waktu SMA mah jarang. Lebih sering jajan yang lain, sebut saja di warungnya Ibu Ice deket Polpat yang cukup murah meriah. Haha…

Sabtu lalu, karena saya masih kurang sehat dan perlu minum obat tepat waktu, sebelum ngisi mentoring saya bela-belain deh makan dulu ke selot. Asalnya mau makan bakso selot, tapi kayaknya baru dua pekan lalu deh makan bakso selot. Masa makan bakso lagi? Terus kepikiran lah makan doclang. Setelah culang-cileung nyariin gerobak tua hijau si bapak tukang doclang dan ga ketemu-ketemu. Akhirnya nemu juga gerobak bertuliskan doclang dekat tukang bakso. Gerobaknya udah baru, warnanya kuning merah, seragam dengan gerobak pedagang lainnya. Mungkin dapet bantuan dana perbaikan sarana jualan kali ya dari pemkot. Cuma ya itu, kosong ga ada yang jaga. Saya sempet nyariin si bapak tua yang biasanya sampai kemudian disapa oleh ibu muda yang sedang cuci piring. “Makan kupat tahu pak? Sebentar ya pak, duduk saja dulu”.

Sekarang harganya seporsi udah Rp 8.000,-. Dulu kayaknya saya beli dari mulai harga Rp. 5.000,-. Haha…, udah lama juga ya. Rasanya masih sama. Sambalnya pasti di taruh di sendok makannya. Biasanya saya buang sebagian di wastafel belakang tempat duduk karena ga doyan pedas.

Nah, pas bayar, iseng-iseng nanya ke si ibunya. “Saya lama ga makan di sini bu, bapak tua yang biasanya jualan kemana ya?”. Si ibunya jawab sambil ngasi uang kembalian, “Aduh, udah lama ga ada. Hampir tujuh bulanan.” Dan saya speechless sambil ngelihatin gerobak jualan berwarna kuning merah tersebut. Beberapa bagian gerobak hijau yang lama masih dipakai, bercampur dengan peralatan yang sudah baru. Ternyata beneran penjual yang sama, bukan yang lainnya.

Saya kemudian pamit ke si ibu. Mengucapkan permohonan maaf dan terima kasih. Ternyata Ibu yang tadi menantu si bapak tua. Dia dan suaminyalah yang melanjutkan berjualan doclang di selot. Aduh, siang itu saya malah jadi keinget si bapak yang sudah almarhum dengan gerobak hijaunya, dengan ceret tuanya, dan teh tawar yang biasanya disajikan sebagai minuman, yang kadang saya suka minta nambah. Semoga Allah SWT menerima amal ibadah si bapak, dan mengampuni dosa-dosanya. Terima kasih banyak pak atas doclangnya selama ini.

Rasanya beberapa catatan materi nasihat yang saya siapkan buat anak-anak siang itu kalah dengan peristiwa kecil tadi. Memang ya, ternyata ada benarnya perkataan ulama yang bilang bahwa cukuplah kematian sebagai nasehat.

APTB, 19 Mei 2014

Menghitung Rindu

Dan apakah kamu tahu caraku menghitung rindu?

Sesederhana menghitung waktu demi waktu
Hingga kita tak sengaja bertemu di suatu sore

Sekedar duduk bersebelahan dalam angkutan
Mentertawakan berbagai kekonyolan
Mengomentari senja di tepian jalan
Membicarakan orang-orang
Dan berbicara tentang apa saja
Kecuali tentang kita

Kemudian di simpang jalan saat berpisah seperti biasanya
Mungkin kamu tidak pernah tahu
Hitungan rindu itu akan berulang
Hingga pertemuan berikutnya

How did they find me? :p

image

Apa kabar iman?

Dalam hidup, sudah selayaknya kita menjaga dan merawat apa yang Allah karuniakan kepada kita. Fisik yang sehat, harta yang dititipkan Allah pada kita, hubungan baik dengan orang tua dan sahabat, pekerjaan, dan yang tak kalah penting adalah keimanan. Jaga sebaik-baiknya karunia iman agar tidak lepas, rawat dengan baik agar senantiasa tumbuh dan berkembang layaknya tanaman yang baik dan sehat. Iman itu cenderung naik dan turun. Naik karena amal-amal ketaatan, dan turun karena kemaksiatan.

Nah, apa kabar iman?

Tanpa Judul

Ada hal-hal tertentu yang tidak perlu dipikirkan
Hanya perlu jujur dirasakan
Seperti tertawa untuk hal yang lucu
Tersenyum untuk hal-hal yang menyenangkan
Menangis saat sedih
Berkata sakit saat merasa sakit
Bersegera makan ketika merasa lapar
Ya, semudah itulah

Pada kenyataannya…
Tidak semua tanya harus dicari jawabnya
Tidak semua hal memerlukan penjelasan
Kadang hanya perlu jujur dirasakan

…………………

Arafah

Catatan Pemikir Bodoh

Arafah, inilah potret negeri cinta. Seluruh jiwa menyatu dalam lukisan yang rumit: disatukan oleh kekuatan cinta yang lahir karena kekuatan iman. Arafah adalah potret negeri cinta. Saat pasukan cinta datang membebaskan jiwa-jiwa manusia dari belenggu yang membatasi hidupnya dari sekat tanah dan etnis.

Arafah adalah potret negeri cinta. Saat celupan cinta jiwa-jiwa muncul dalam kesamaan-kesamaan yang baru. Keramahan yang tulus, kerendahan hati yang natural. Arafah adalah potret negeri cinta. Negeri yang menunjukkan bahwa batasan negeri kita adalah ruang hati kita. Seluas apa ruang hati kita dapat menampung orang lain dengan cinta, seluas itulah negeri yang kita huni. Arafah adalah potret negeri cinta yang menunjukkan selama apa cinta dapat bertahan dalam hati kita, selama itulah umur negeri kita

(Dari kultwitnya Anis Matta. Artikel lengkap : Negeri Cinta)

View original post

Teacher

“If being a teacher is a career option that you want to pursue, then make sure you have a burning passion for it. A passionate teacher is a good teacher. Don’t be a teacher because you can’t be anything else. A teacher is not a backup profession. If I am going to send my child to a teacher, then I want to make sure that he/she is sincerely interested in teaching my child something beneficial. I don’t want a “teacher” who waits for the paycheck and the weekends.”

(taken from Aiman Azlan’s post)

Dan dewasa adalah…

“Dan dewasa adalah kamu tetap menunaikan kewajiban kamu, seberat apapun kondisi yang sedang menimpa kamu. Dewasa adalah kamu tetap memenuhi hak orang lain atas kamu, semenyebalkan apapun orang yang harus kamu penuhi haknya itu. Dewasa adalah memaafkan orang lain sebelum orang itu meminta maaf, bahkan tetap memaafkan jikapun orang tersebut tak memintanya. Bukan karena memaafkan itu sebuah keharusan, tapi karena dengan tidak memaafkan, kamu akan lebih menyakiti perasaan kamu sendiri. Dewasa tidak selalu kamu yang harus mengalah. Dewasa adalah kamu tahu kapan saatnya mengalah. Bukan karena kamu takut ataupun lemah. Tapi terkadang, mengalah memang pilihan yang paling bijak. Dewasa adalah kamu mengurangi ego kamu, seberapa sedikitpun ego yang kamu rasa. Bukan karena ego itu tidak penting, tapi karena menjaga kebersamaan selalu lebih penting daripada ego kita masing-masing.”

(taken from Nazrul Anwar’s note)